Translate

0001-6173730775_20210818_213258_0000
Tampilkan postingan dengan label Berita tentang Tenun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berita tentang Tenun. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Maret 2022

Sarung Tenun Baduy BAL1817




Kain Sarung Tenun Baduy, kerajinan dari Suku Baduy, Banten. 

Dikerjakan dengan Tenun Tangan (manual) bukan tenun mesin. 

Berbahan Katun, adem dan nyaman dipakai. 


HARGA : Rp 299.000,-/pcs

Tidak tersedia warna lain. 

Info lengkap tentang produk dan PEMESANAN ke :
WA : 0812-8889-4243
(tidak melayani Telpon dan SMS, hanya melayani WA)

CARA PESAN :
Silahkan kirimkan foto produk ATAU sebutkan Kode Produk, sebutkan ukuran yang dicari dan tanya stok ke nomor WA di atas.

*BELANJA LEBIH MUDAH melalui APLIKASI, Ketik : Batik ALC di Google Playstore atau silahkan KLIK Link berikut :

https://bit.ly/2RzshT0


JAM KERJA
Senin - Minggu : 10.00 - 20.00 WIB

*SILAHKAN SESUAIKAN UKURAN BAJU yang Anda Cari dengan Pola Batik ALC, bila kesalahan ukuran baju yang diterima karena tidak Anda sesuaikan dengan pola Batik ALC, maka penukaran baju akan dikenakan DENDA 50%

*Produk di atas 500Rb dikirim pada hari yang sama bila pembayaran Kami terima sebelum jam 15.00 WIB, kecuali hari Libur.
Produk Berharga 100Rb s/d 500Rb dikirim 1-2 hari setelah pembayaran kami terima.
Produk di bawah 100Rb akan dikirimkan 2-3 hari setelah pembayaran Kami terima

Rekening Bank :
BNI 0401-287828 a/n Aman Jaya Lase


Sabtu, 18 Maret 2017

Pegawai Bank Sumut Pematang Siantar Pakai Batik Tenun Simalungun

Motif Batik Tenun Simalungun : Anak dari seorang perajin sekaligus pengusaha tenun di lembaga pelatihan kerja (LPK) Anugrah Jalan Halilintar Kota Pematangsiantar sedang menunjukkan motif batik tenun Simalungun, Selasa,(7/3).
FOTO : SIB/BOGIE GOSIA TAMBUNAN


Motif batik tenun Simalungun paling laris dipesan pembeli di lembaga pelatihan kerja (LPK) Anugrah Jalan Halilintar No 6 Kelurahan Siopat Suhu Kecamatan Siantar Timur Pematang Siantar. Demikian dikatakan Hotnawinda Panjaitan seorang Perajin sekaligus Pengusaha tenun kepada SIB, Selasa (7/3).


Dikatakan motif batik tenun Simalungun pertama kali dipakai Pegawai Bank Sumut Pematang Siantar yang merupakan pesanan yang dibuat perajin LPK Anugrah.

Kemeja Tenun Baron Jepara - Aman Lase Collection


"Motif batik tenun Simalungun banyak dipesan karena memiliki keunikan. Mengerjakannya butuh waktu satu setengah hari. Untuk ukuran 2,5 meter dalam tempo 2 hari sudah siap sedangkan ukuran 3,5-4 meter maksimal 4 hari," katanya.

Ditambahkannya, walaupun memiliki buku motif/hak cipta namun tetap saja banyak orang yang menirunya.

sumber : hariansib.co

Minggu, 12 Februari 2017

Tenun Maumere di Indonesia Fashion Week 2017

Tenun Maumere - foto Bisnis.com

Kain tradisional khas nusantara telah menjadi bahan baku paten bagi merek tas lokal Warnatasku. Untuk meramaikan jagat fesyen Nusantara, Yuda Pratomo sebagai pemilik merek berkolaborasi dengan enam desainer Indonesia dengan tema utama kain tenun Maumere.

Enam desainer tersebut antara lain Irwansyah Mec's, Kunce, Verlita Evelyn, Dana Duryatna, Nita Seno Adji, dan Yoyo Prasetyo.

Dalam ajang Indonesia Fashion Week 2017, keenam desainer tersebut menampilkan desain dan koleksi terbaru dengan tema utama kain tenun ikat khas Nusa Tenggara Timur, tepatnya Maumere.

"Pemilihan Maumere secara khusus ditampilkan karena memiliki potensi kekayaan, keindahan, dan kekuatan budaya untuk dijadikan salah satu lokasi tujuan wisata di Indonesia, kata Yuda, dalam konferensi pers, Selasa (2/7/2017).

Selain itu, lanjutnya, budaya tenun ikat yang dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat pengrajin memiliki filosofi sejarah dan makna yang luas untuk diterjemahkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Konsistensi desain model yang dibuat tetap membawa kesan simpel atau sederhana nan elegan. Kami yakin segementasi pasar profesional muda sampai dewasa mampu menjadi trendsetter bagi perkembangan potensi kain tradisional Indonesia," katanya.

Saat ini produknya telah diekspor ke berbagai negara, bukti bahwa pengrajin dan desainer Indonesia menghargai budayanya serta mampu memakmurkan Indonesia melalui warisan budaya dari leluhur. 

Wastra Indonesia seharusnya memang tak usah diragukan lagi. Dari seluruh penjuru memiliki khasanah kain tradisional yang bisa dieksplorasi secara mendalam. Salah satunya wastra yang berasal dari Maumere, Nusa Tenggara Timur.

Ini ditunjukkan dengan pagelaran mode, Indonesia Fashion Week (IFW) 2017. Dengan berlandaskan tema ‘Celebrations of Culture’, semua desainer seakan berlomba memperlihatkan bagaimana wastra Nusantara bisa diolah dengan ciamik.

Pernah melihat wastra Nusantara dipadukan dengan budaya di luar Tanah Air? Kunce melakukannya. Desainer berdarah Ambon ini memadukan tenun khas Maumere dengan sentuhan oriental. Dengan menambahkan aksesori dari giok, warna-warna oriental seperti merah dan berpotongan loose.

Karya : Yoyo Prasetyo


Desainer yang tergabung dalam APPMI Jakarta ini memberi sentuhan baru pada kain tenun Maumere. Pola yang sudah tersusun pada kain ia bordir kembali menjadi pola-pola tersebut lebih hidup. Womens wear karya desainer berkacamata ini sangat elegan, glamor dan edgy. Sangat wearable untuk wanita masa kini.

Karya : Irwansyah


Desainer yang juga seorang aktris ini menampilkan koleksi bagi wanita urban. Potongan seperti sleeveless, atau flare hadir untuk mengesankan tampilan yang chic, simple dan edgy bagi pemakainya. Berharap tenun bisa menjadi busana yang bisa digunakan untuk sekadar hangout atau kuliah.


Karya : Kunce


Jika Kunce hadir dengan tenun yang dipadukan dengan aksen oriental, Dana dengan label Priya menghadirkan tenun dengan potongan Indian style. Baju kurung untuk pria, celana kulot dan loose outer bisa menambah opsi untuk pria dalam berbusana.

Rustic atau teknik jahit dan pewarnaan baju yang mengesankan seperti rusak dan usang dibuat sinergi dan dinamis oleh Yoyo. Tenun dengan rustic ini akhirnya menghasilkan tampilan yang glamor dan edgy.

Karya : Nita Seno Adji


Sebelum show berlangsung, Ervina Ahmad, desainer sekaligus pemilik WARNATASKU mengutarakan harapannya agar tenun ini bisa terus dilestarikan, salah satunya dengan cara disandingkan dengan karya desainer lokal.


Karya : Dana Duryatna


“Dengan dipakai pada pagelaran busana seperti ini saya harap bisa membuat semua orang aware dan akhirnya beralih pada tas produksi dalam negeri yang tak kalah dengan brand luar. Pengrajin (tenun) kita juga perlu diangkat,” tegas Ervina kepada Okezone, Kamis, 2 Februari 2017.


Kamis, 15 Desember 2016

Tenun Ende Terancam Punah

Kemeja Tenun NTT kombinasi Tenun Katun Polos by Aman Lase Collection


Kain tenun Ende sudah dikenal luas sejak lama. Ini merupakan warisan budaya Indonesia. Setiap kain tenun bermakna bagi masyarakat Ende. Setiap tenun bisa hidupkan sandang pangan keluarga dan membantu suami untuk pendidikan anak.


Hal itulah yang diungkapkan oleh Pemerhati Sosial Ekonomi untuk kain Tenun, Bernadetha Maria Sere Ngura Aba yang akrab disapa Sere. Ia menjelaskan kain tenun Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan warisan tradisi. Kain tenun Ende memiliki ciri khas tersendiri. Kain Ende berwarna coklat gelap. Motifnya kecil dan ada salur hitamnya di kain dari motif dan ragam hias. Motif disebut kepala kain dan ragam hias disebut kaki kain. 

"Saat ini tenun Ende kehilangan momentum untuk berkembang, kain tenun ini kerap dianggap hanya menjadi komoditas saja, padahal makna di balik kain tenun Ende sangatlah beragam yang seharusnya menjadi khazanah dan kekayaan kebudayaan nasional yang multikultur. Hilangnya kesadaran, orientasi dan makna terhadap budaya dan tradisi membuat kain tenun Ende kurang diketahui oleh masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya, di tengah gencarnya bermunculan budaya-budaya modern yang adoptif," jelasnya saat pembukaan Pameran Pesona Kain dan Budaya Ende Digelar  di Jakarta, Rabu (14/12).


Koleksi Tenun Ende Aman Lase Collection

Kurangnya kesadaran dan apresiasi masyarakat,  membuat kain tenun ini kehilangan pamor. Hal ini berdampak pada kondisi penghidupan para pengrajin kain tenun Ende. "Saat ini terdapat 50 pengrajin yang dibina oleh Museum Tenun Ikat di Ende, di mana kondisi pengrajin tenun masih memerlukan bantuan dalam hal pemberdayaan, secara teknik tenun, penggunaan bahan-bahan alami dan bahan baku lainnya, serta akses permodalan dan pemasaran," ungkap Pengelola Museum Tenun Ikat di Kabupaten Ende, Ali Abubekar yang juga menjadi Pembina Kelompok Pengrajin Tenun.


Terancam Punah

Sebagai bagian dari warisan budaya, tenun ikat Ende dari Nusa Tenggara Timur (NTT) perlu dijaga keeksistensiannya. Bukan mustahil wastra Nusantara ini akan punah dalam waktu dekat jika masyarakat dan pemerintah tidak saling bahu-membahu melestarikannya. 


Kain tenun Ende memancarkan daya tarik tersendiri. Terlihat dari warnanya yang cenderung gelap dan kecoklatan karena proses pewarnaan alami. Selain itu, setiap motifnya menceritakan adat-istiadat dan kepercayaan masyarakat setempat.


Kemeja Tenun NTT kombinasi Tenun Katun Polos by Aman Lase Collection


Seperti motif gajah pada kain Zawo Nggaja Soke Mata Mere yang dibuat dengan perpaduan teknik ikat lungsi dan tenun sederhana. "Gajah dipercayai sebagai binatang kesayangan para dewa," kata Ali Abubekar, penggagas sekaligus pengelola Museum Tenun Ikat Ende saat pembukaan pameran 'Pesona Kain & Budaya Ende' di Museum Tekstil, Jakarta Pusat, Rabu (15/12/2016). 

Ada pula kain yang berhiaskan motif-motif mirip huruf kanji. Kain itu, kata Ali, menggambarkan jejak para pendatang dari Indo-China ke Tanah Flores, NTT. Coraknya yang halus namun padat karena terdiri dari motif dan ragam hias menjadi keunikan lain dari tenun ikat Ende.

Terlepas dari keistimewaan tersebut, kain Ende terancam punah karena berbagai kendala. Salah satunya datang dari para perajin sendiri.

Dijelaskan Ali, belakangan banyak desainer yang mulai melirik kain tersebut untuk dipakai sebagai material utama. Namun kain yang tersedia umumnya belum sesuai dengan selera pasar, baik dari segi motif maupun warna. 

Untuk itu, para perajin diharapkan dapat menghasilkan karya yang dapat memenuhi kebutuhan pasar. "Hanya saja, meyakinkan para perajin untuk membuat sesuatu yang baru tidaklah mudah karena masih terpaku pada pakem tradisional," kata Ali.

Hal tersebut seharusnya menjadi momentum kebangkitan kain Ende di tengah popularitas kain batik sekaligus peluang untuk meningkatkan kesejahteraan perajin. Apalagi banyak masyarakat Ende yang menggantungkan hidupnya pada penjualan kain tersebut. 


Tenun Ende kombinasi Katun Tenun Polos by Aman Lase Collection



Sejak beberapa tahun terakhir, Ali pun mulai aktif melakukan pembinaan kepada para perajin. Selama pembinaan, ia mengajarkan cara pemakaian warna sintetis sekaligus mengenalkan corak-corak yang menjadi tren pasar tanpa meninggalkan ciri khas kain Ende sendiri. Saat ini, ada 50 perajin yang dibinanya.

"Biasanya, lama pengerjaan kain dari pewarna buatan dengan motif yang baru lebih singkat sekitar dua minggu," kata Ali. Dengan waktu yang relatif pendek itu, semakin banyak kain yang dihasilkan sehingga memenuhi kuota permintaan pasar. Untuk kain berwarna sintetis umumnya dipatok minimal seharga Rp 500.000 per lembarnya. 

Regenerasi perajin juga menjadi rintangan tersendiri dalam upaya pelestarian tenun Ende. Berdasarkan pengamatan Bernadetha Maria Sere Ngura Aba, pemerhati sosial dan ekonomi tenun Ende, para perajin yang ada sudah berusia lanjut "Generasi muda yang merupakan usia produktif kurang tertarik menjadi perajin. Mereka lebih memilih hijrah ke kota atau negara lain sebagai TKI," kata Sere, sapaan akrabnya. 

Sebagai solusi, besar harapan Sere agar pemerintah segera memasukkan muatan lokal tentang pengenalan tenun ikat Ende ke dalam kurikulum sekolah. Dengan begitu, tumbuh kecintaan dan kebanggaan terhadap kain tersebut sejak kecil.

"Kalau tidak segera dilakukan, kita tinggal tunggu saja sekitar 20-30 tahun ke depan, tenun Ende benar-benar punah," katanya. Sere juga berharap, pemerintah juga harus bertindak tegas dalam menertibkan peredaran kain printing bermotif tenun Ende di NTT yang datang dari luar daerah. 


Upaya pelestarian juga tidak lepas dari dukungan serta apresiasi masyarakat luas. Pameran 'Pesona Kain & Budaya Ende' yang digelar oleh Komunitas Peduli Wastra Indonesia pada 14-20 Desember merupakan upaya untuk memperkenalkan dan mengingatkan masyarakat akan warisan budaya tersebut. Sebanyak 110 kain koleksi Museum Tenun Ikat Ende dipamerkan dalam hajatan tersebut. 


Tenun Ende kombinasi Katun Tenun Polos by Aman Lase Collection



"Kain Ende perlu terus diangkat apalagi dengan adanya Masyarakat Ekonomi Asean yang membuat barang-barang luar bebas masuk ke Indonesia. Kalau tidak mendapat tempat di negerinya sendiri, kain ini akan hilang atau diklaim negera lain," kata Ali. 

Selain pameran, juga digelar pelelangan kain, busana berbahan tenun Ende rancangan desainer Musa Widiatmodjo, serta lukisan. Dana hasil pelelangan akan disumbangkan untuk mendukung program revitalisasi Museum Tenun Ikat Ende dan pemberdayaan perajinnya. 

"Kondisi museum saat ini sangat memprihatinkan. Meski meminjam bangunan milik daerah, biaya pengelolaan tetap dari kantong pribadi dan swasta," ungkap Ali.


Sepenggal Kisah Aminah yang Setia Membuat Tenun Ikat Ende


Aminah (67), seorang ibu yang setia menenun kain ikat Ende ditengah gempuran modern
FOTO : YUNI ARTA SINAMBELA/DOK.NOVA

Indonesia memiliki keanekaragaman dan kekayaan budaya yang luar biasa banyaknya. Sayangnya, masih belum semuanya dikenal baik oleh masyarakatnya sendiri.

Nun di bagian timur Indonesia, salah satu daerah yang memiliki potensi budaya mengagumkan adalah Kabupaten Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur. Daerah ini terkenal dengan kain tenun ikat Ende yang merupakan warisan tradisi dari leluhur masyarakat Ende.

Karena keindahannya kain tenun ikat Ende banyak disukai orang. Tak hanya masyarakat Indonesia, turis asing pun bahkan amat mengaguminya. Namun, dibalik keindahannya itu ternyata proses pembuatannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Semua dikerjakan secara manual. Nyaris tanpa mesin yang canggih. Tak heran, semakin sulit teknik pengerjaannya maka semakin mahal pula harga selembar kain tenun ikat Ende tersebut. 

Salah satu penenun yang masih melestarikan teknik manual tersebut adalah Aminah, perempuan asli Ende, Nusa Tenggara Timur. Ketika ditemui di Museum Tekstil Jakarta, Aminah menceritakan kisahnya sebagai seorang penenun kain yang telah dijalaninya selama 55 tahun terakhir.

Dan kegigihannya menenun sehelai kain demi kain itulah ia mampu membiayai keluarganya selama ini. Sembari berbincang dengan TabloidNova.com, tangan Aminah tampak begitu telaten memilah helai benang demi benang untuk membuat satu kain tenun ikat Ende bermotif khusus untuk perempuan. 

"Saya sudah 40 tahun lebih tinggal di desa. Sebelumnya saya tinggal lebih jauh lagi di pelosok, dari Ende berjarak 80 kilometer. Saya jadi penenun sejak umur 12 tahun," ujar Aminah saat didatangkan dalam acara 'Menggali Pesona di Balik Kain Tenun Ende dan Menjaga Kelestarian Budaya Melalui Revitalisasi Museum Tenun Ikat', Rabu (14/12) petang.

Warisan budaya ini tentu saja didapat Aminah dan keluarganya secara turun-temurun. "Mama saya dari kecil sudah ajarkan tenun bikin nilam semua kita tahu," kata perempuan berusia 67 tahun ini dengan logat yang kental.

Untuk membuat sehelai kain tenun ikat Ende, Aminah memerlukan waktu sekitar 2-3 bulan lamanya. Hal itu dimulai dari proses membuat benang gulung, pewarnaan hingga menenun. Hanya itulah pekerjaan Aminah sehari-harinya, namun ia bersyukur dari hasil menenunnya itu bisa menghidupi ke-6 anaknya di rumah.

"Suami saya sudah lama meninggal tahun 2001, sudah 15 tahun. Jadi, bisa jual 2-3 kain dalam dua bulan, ya, hanya untuk makan anak-anak saja."

Dikerjakan dengan dedikasi waktu, ketelitian, dan segenap hati, membuat sehelai kain tenun ikat Ende menjadi begitu bermakna bagi mereka yang mengetahui proses pembuatannya.

Lantas berapa Aminah menjual kain tersebut pada mereka yang tertarik membelinya? "Kalau tenun yang biasa saja bisa 500 ribu, tapi kalau yang bagus bisa 1 juta lebih harganya," jelas nenek dari 10 orang cucu ini.

Menurut Aminah, untuk belajar menenun memang perlu waktu yang cukup lama dan harus sangat sabar. "Tidak bisa cepat atau dalam keadaan terpaksa. Setidaknya untuk belajar dasar menenun bisa memakan waktu setahun lebih."


Koleksi Tenun NTT Aman Lase Collection


Namun, yang dirasakan kini, bagi sebagian orang kain tenun ikat Ende kehilangan momentum untuk berkembang. Sebab kain tenun ikat Ende kerap dianggap hanya menjadi komoditas saja.

Padahal makna dibalik kain tenun ikat Ende sangatlah beragam yang seharusnya menjadi khazanah dan kekayaan kebudayaan nasional yang multikultural.

Hilangnya kesadaran, orentasi dan makna terhadap budaya dan tradisi membuat kain tenun ikat Ende kurang dilketahui oleh masyarakat Indonesia, terutama generasi mudanya. Terutama di tengah gencarnya budaya-budaya modern yang adoptif.

Rupanya, di tengah gempuran globalisasi Itulah salah satu faktor yang membuat anak-anak zaman sekarang kurang tertarik membuat tenun ikat Ende yang penuh makna. 

"Anak-anak sekarang kalau pulang sekolah, tidur, dan tidak bisa dipaksa, kalau kita paksa sudah tidak benar. Mereka ada juga pulang sekolah ikut jual makanan dan minuman sama mama, atau jaga punya adik, setrika dan nyuci," ujar Aminah yang menerima semua kondisi tersebut dengan senyuman.

Kurangnya kesadaran dan apresiasi masyarakat terhadap kain tenun ikat Ende pun memiliki dampak terhadap kondisi penghidupan para perajin. Saat ini terdapat 50 perajin yang dibina oleh Museum Tenun Ende, dimana kondisi mereka masih memerlukan bantuan dalam hal pemberdayaan.


Koleksi Tenun NTT Aman Lase Collection


Tentu saja, Aminah berharap sebagai salah satu dari mereka, ia mampu mendapatkan kehidupan yang semakin membaik dari kain yang ia tenun selama ini, meski dalam kondisi yang tak lagi sama seperti ketika dirinya mulai menenun di masa remaja dulu.


sumber : detikcom , republika , tabloidnova

Senin, 05 Desember 2016

Selain Batik, Presiden Jokowi Juga Sering Terlihat Memakai Kemeja Tenun NTT

Presiden Jokowi memakai TENUN NTT, memberi arahan dalam acara Penandatanganan Kontrak Kegiatan Strategis T.A.2016 Kementrian Perhubungan (18/1). Foto: kabardariflores.blogspot.co.id


KOTA Kupang  Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memang sudah diakui akan keindahan alam dan kain tenun tradisionalnya. Maka tak heran Presiden Joko Widodo mengaku bangga kenakan busana tenun khas NTT saat berkunjung ke Kupang. 

"Hari ini saya menggunakan baju tenun dari NTT," jelasnya disela-sela Perayaan Harganas ke-23 di Kupang, Sabtu (30/7/2016). 


Presiden Jokowi bersama Ibu Iriana pada acara puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-23 (Wartakepri.com) . ©2016 Otonomi.co.id

Sebelum Presiden Jokowi menunjukkan dari mana asal tenun itu berasal, Presiden Jokowi sempat memanggil pelajar yang ada di Kupang. Salah satunya adalah Melani, pelajar SMAN 3 Kupang yang menjelaskan jika baju tenun yang digunakan oleh Bapak Presiden Jokowi, berasal dari Kabupaten Sika. 
"Tenun yang dipakai Bapak dari Kabupaten Sika Maumere," jawab Melani. Jokowi lantas membenarkan hal tersebut dan mempersilahkan pelajar tersebut mengambil salah satu sepeda yang telah dipersiapkan sebagai hadiah dari Presiden untuk masyarakat kota Kupang. 

Jokowi menambahkan dengan adanya Harganas menjadi sebuah awal bagi seluruh keluarga Indonesia membentuk keluarga yang berkualitas. "Saya berharap dengan Harganas ini keluarga Indonesia kedepan semakin berkualitas dan membentuk negara yang semakin berkualitas," pungkasnya.


Presiden Joko Widodo mengenakan kemeja lengan panjang bahan tenun ikat asal NTT saat memimpin rapat terbatas di kantor kepresidenan, Selasa (5/1). FOTO: Natalia/JPNN.com

Jokowi juga memakai kemeja lengan panjang bahan tenun saat memimpin sejumlah rapat terbatas di kantor kepresidenan.

“Itu dari tenun ikat NTT, saat beliau berkunjung ke sana akhir tahun lalu,” ujar anggota tim komunikasi presiden Ari Dwipayana kepada JPNN, Selasa (5/1).

Sepanjang akhir tahun lalu, Jokowi memang mengunjungi sejumlah daerah di Indonesia timur. Pada 28 Desember lalu, Jokowi berkunjung ke NTT untuk meninjau sejumlah proyek dan mengikuti perayaan Natal bersama nasional.

Dari NTT, ia membawa oleh-oleh pakaian dari tenun ikat. Yang dipakainya hari ini adalah kain tenun ikat khas Pulau Sabu, NTT.

Setiap kali ke daerah yang dikunjungi, biasanya Jokowi memang mengumpulkan batik maupun kain khas wilayah tersebut. Ibu Negara Iriana yang memilihkan untuknya.

“Waktu itu, Pak Jokowi kan sempat dengan Ibu Negara ke tempat souvenir di Kupang, jadi mungkin beli juga kain tenun," ujar Kepala Biro Pers Istana, Bey Machmudin


Presiden Jokowi  pada acara peletakan batu pertama Proyek Kereta Cepat Jkt-Bdg(21/1)

Presiden Joko "Jokowi" Widodo ingin sejajarkan tenun ikat NTT dengan batik Jawa. 
"Tenun NTT bisa sejajar dengan batik, saya berusaha mulai dari istana. Mari jaga dan lestarikan," ujarnya. 

"Tenun NTT diminati Dunia Mode. Saya berupaya mendukung Tenun NTT eksis hingga Dunia Internasional. Salah satu keberhasilan menjadi penerus leluhur NTT adalah dengan melanjutkan kearifan lokal karya Leluhur", tulis Presiden Jokowi di akun facebook dan twitternya.

Jokowi juga mengatakan tenun ikat Flores itu unik, motifnya kaya dan nyaman dipakai.


Jokowi dengan Tenun  Ikat Flores NTT

Jokowi memakai kemeja tenun ikat dari Ende Flores NTT pada saat kunjungi lokasi ledakan Bom Sarinah

Ini dia koleksi Kemeja Tenun NTT Aman Lase Collection : 


Tenun NTT Aman Lase Collection

Tenun NTT kombinasi Tenun Polos Aman Lase Collection


sumber : okezone, merdeka.com, jpnn.com

Sabtu, 03 Desember 2016

Perkenalkan, Tenun Kudus

Tenun Kudus


Ingin dikenal sebagai produsen kain nusantara, Kudus mulai memperkenalkan produk-produk kain tenunnya.


Produk kain tenun memang terbilang masih menjadi potensi baru yang berkembang beberapa tahun belakangan.

"Tenun ini memang baru dikembangkan, sehingga memang belum sepopuler bordir maupun Batik Kudus," ujar marketing Dewi Sri Tenun Kudus, Ilma Nor Rohana.

Tenun yang dikenal sebagai Tenun Undangan karena berasal dari daerah bernama Undangan ini, banyak menggunakan ikon-ikon Kabupaten Kudus pada motifnya.


Motif menara dan motif tembakau merupakan cara perajin memperkenalkan Kudus melalui kain ATBM ini.
Selain itu, perajin banyak menggunakan motif-motif geometris seperti garis maupun zig-zag.

Produk yang didominasi warna-warna gelap inipun baru mampu menggaet pasar orang-orang tua di Kudus.

Dengan mengikuti banyak pameran di luar kota, Ilma berharap akan mendapat banyak masukan agar produknya bisa diterima anak muda.

"Kami sudah mengembangkan warna-warna soft dan menampung masukan untuk model-model baju agar anak muda tertarik dengan tenun Kudus ini," tutupnya. 


sumber : tribunnews

Kamis, 24 November 2016

Ini Sosok Pahlawan Tenun Tapis Lampung

 Siti Rahayu, Pahlawan Tenun Tapis Lampung


Pahlawan Tenun Tapis Lampung


Adalah Siti Rahayu, salah satu pengrajin Tenun Tapis khas Lampung. Siti sampai saat ini masih menjaga kebudayaan asli Lampung tersebut.

"Tapis ini budaya dari Lampung, Tapis juga biasa digunakan raja-raja Lampung yang untuk pesta, anaknya nikah gitu. Saya sendiri udah mulai dari 1998," ujarnya saat ditemui para Datsun Risers, Minggu (13/11/2016).

Rahayu yang memiliki gallery sendiri di rumahnya, dengan nama Gallery Rahayu di jalan Soekarno Hatta no 3, Tanjung Senang, Kedaton, Bandar Lampung ini mengatakan sudah membuat perubahan pada tenun Tapis, tapi tentunya tidak menghilangkan keaslian budaya dan kualitasnya. Baca juga: Koleksi Songket Lampung Aman Lase Collection

"Tapis Lampung itu terkenal dengan berat dan kaku, kita coba gimana caranya membuat tidak berat dan kaku, karena itu lah orang-orang punya kesempatan memakai Tapis ini, kita renovasi," ujar Rahayu.

"Kalau kita jaga kualitasnya, itu orang mau cepat atau lama pesannya tetep harus bagus, kemudian sekarang karena tapis banyak ya jadi saya membuat modifikasi segala macem, jadi saya harapkan semua orang senang," tambah Rahayu.

Dari segi pemakaiannya, ada beberapa nama salah satunya adalah Matakibaw, tembag Rahayu.

"Biasanya orang Lampung itu kalau mau pesta pake yang motifnya penuh, namanya Matakibaw, suami istri make pas anaknya nikah, atau sekarang kaya pesta di gedung gitu," tutur Rahayu.

Tenun Tapis dari Rahayu ini juga sudah tersebar keseluruh Indonesia, bahkan sudah ada yang tersebar luar negri.

"Kalau keluar di Timur Tengah, ada lagi dari Selangor, Johor, Penang," kata Rahayu.

Kisaran harga tertinggi untuk tenun Tapis ini Rp 15 jutaan. Sedangkan untuk pengerjaan paling cepat satu bulan dan paling lama dua bulan.

"Tergantung mereka yang mengerjakan. Ngerjainnya siang malam ga, makin sering yang mengerjakan makin cepat," ucap Rahayu.

sumber: detikcom

Minggu, 20 November 2016

Bekraf Dukung Perajin Tenun Songket Lombok Tengah Rambah Fesyen

Bekraf Dukung Perajin Tenun Songket Lombok Tengah Rambah Fesyen
Foto : kompas.com


Para perajin tenun songket di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat bersiap merambah bisnis fesyen setelah mendapat bimbingan dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf).


"Pelatihan diberikan guna menjawab perkembangan pasar serta memberi nilai tambah atas produk yang dibuat perajin," kata Deputi Infrastruktur Bekraf Hari Sungkari pada acara penutupan "workshop" untuk para perajin tenun songket di Lombok Tengah, Kamis.

Kegiatan ini diikuti oleh 50 perajin tenun songket yang berasal dari Dusun Matek Maling, Desa Ganti, Dusun Wadek, dan Desa Ternak Rarang.

Para perajin mengikuti pembinaan dan pendampingan yang dilakukan oleh Bekraf selama tiga bulan, dimulai September hingga November 2016. Bimbingan tersebut dilakukan dalam rangka pembentukan Ekosistem Desa Kreatif.

Sungkari mengatakan banyak wisatawan yang belakangan ini memilih wilayah Lombok Tengah sebagai tujuan wisata sehingga pasar untuk produk-produk kreatif dari perajin lokal sangat terbuka lebar termasuk juga tenun songket.

"Sebagai sentra tenun songket, Lombok Tengah harus mampu menangkap peluang ini. Tak hanya kain tenun, para perajin harus bisa juga membuat baju. Jika para perajin bisa mendesain dan memproduksi baju dari kain tenun, prospek bisnis kain tenunnya akan semakin meningkat," ujarnya.

Selama proses pembinaan, kata Sungkari, pihaknya memberikan materi meliputi pembuatan motif baru, pewarnaan alami, hingga membuat desain baju dengan bahan kain tenun tersebut.

Selama ini, para perajin hanya bisa membuat motif-motif klasik pada kain tenunnya dan tidak ada keberanian untuk melakukan inovasi-inovasi. 

"Selain itu, tenun songket yang dibuat para perajin hanya berakhir sebagai lembaran kain sarung dan tidak dikembangkan menjadi produk yang memiliki nilai tambah, misalkan baju dan sebagainya," ucapnya.

Wahyuni, salah seorang perajin mengaku senang dengan bimbingan yang diberikan oleh Bekraf selama tiga bulan. 

Selain mendapatkan pemahaman membuat motif dan desain, pelatihan ini juga bisa menjadi momen menggali khasanah lokal yang selama ini terpinggirkan, yakni pewarnaan alam untuk kain tenun.

"Dulu ada pewarnaan alami, namun sekarang sudah ditinggalkan. Melalui pelatihan ini kami bisa mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya sudah ada di sini tapi tidak pernah dipakai," tuturnya.

Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik Bekraf Selliane Halia Ishak sangat senang dengan perkembangan yang telah dicapai oleh perajin tenun setelah mengikuti proses pembinaan  ini, karena banyak motif yang telah dibuat oleh para peserta di akhir pelatihan.

"Saya bangga dengan ibu-ibu yang telah mengikuti pelatihan di sini. Diharapkan nanti bisa mengembangkan ke fesyen, seperti membuat baju, celana, rompi, yang terbuat dari tenun songket. Nanti para perajin akan terus kita bina," katanya.

Dalam kegiatan pembinaan ini, Bekraf menggandeng desainer papan atas, yaitu Denny Khosuma.

Denny Khosuma, yang juga jebolan Vecoles Des Beaux Arts, Angers Perancis mengatakan ada dua motif klasik yang selama ini sering dikerjakan oleh para perajin tenun di wilayah ini. Akan tetapi, dua motif tersebut belum pernah sekalipun dicoba untuk dipadu-padankan.

"Dalam workshop ini akhirnya berhasil dilakukan perpaduan dua motif klasik. Yang penting, para perajin tetap tekun untuk mempraktikkan apa yang telah diajarkan selama pelatihan ini," ucapnya.

Pelatihan dan pendampingan para perajin tenun songket ini dilakukan dalam rangka pembentukan Ekosistem Desa Kreatif. Hal ini dimaksudkan untuk mengenali potensi unggulan dari sebuah wilayah dengan berupaya untuk mengetahui empat rantai nilai ekonomi kreatif, serta empat pihak yang terlibat yakni akademisi, bisnis, komunitas dan pemerintah.

Program fasilitasi pembentukan Ekosistem Desa Kreatif memiliki tujuan besar, yaitu peningkatan produk domestik regional bruto, peningkatan jumlah tenaga kerja terampil, serta pengembangan ekonomi berbasis kearifan lokal.

sumber : antaranew.com

Jumat, 18 November 2016

Kain Tenun Gadod Nunuk Khas Majalengka

Kain Tenun Gadod Nunuk khas Majalengka


Desa Nunukbaru, Kecamatan Maja, Kabupaten Majalengka menerima kunjungan rombongan Kementerian Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat (PUPERA), Ditjen Bina Marga Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional VI (BBPJN VI).

Pimpinan rombongan Kemenpupera Cut Yuliansyah mengungkapkan, tujuan kunjungan untuk meninjau kebudayaan yang dimiliki masyarakat Desa Nunuk Baru.

“Kami tertarik pada kain tenun gadod yang ada di Desa Nunukbaru, dan ingin mengetahui lebih jauh tentang tenun gadod ini,” ungkap Cut Yuliansyah, Jumat (18/11).

Rombongan Kemenpupera tersebut dipertemukan langsung dengan para perajin Kain Tenun Gadod, yaitu Ma Suniah dan Ma Kasti yang masih eksis berkarya untuk membuat kain.

“Kementrian PU Ditjen BBPJN VI sendiri pada bulan Desember ini, akan mengadakan pameran Nasional mengenai kain–kain tenun yang ada di Indonesia, mulai Aceh hingga Papua, termasuk kain tenun gadod dari Nunuk ini,” jelasnya di Balai Desa Nunukbaru.

Dalam kesempatan ini pula, Kiki yang sedang melakukan penelitian tenun gadod Nunuk mengungkapkan kepada rombongan, bahwa keterbatasan SDM pembuat kain tenun ini menjadi motivasi dirinya untuk ikut bersama-sama Pemerintah Desa Nunukbaru, untuk membina dan melatih warga yang berminat sebagai penerus.

“Hal ini telah diusulkan ke Dinas Parbud Provinsi Jawa Barat, untuk program generasi penerus, bahkan seni dan kebudayaan lainnya yang dimiliki masyarakat Nunuk,” ungkapnya. Baca juga: Koleksi Tenun NTT Aman Lase Collection

Sekdes Nunukbaru, Yanto Nuba mengungkapkan, sementara ini kendala yang dihadapi selain regenerasi penenun, motif serta kualitas kain, yakni terbatasnya bahan baku kain, yakni tanaman kapas.

“Untuk itu Pemerintah Desa telah membuat langkah-langkah baru, seperti menghimbau kepada masyarakat untuk mulai menanam kapas, yang nantinya akan ditampung dan dibeli oleh Bumdes Nunuk Baru untuk dikelola sebagai bahan baku kain. Dan langkah tercepat pemerintah Desa sendiri, akan mencari dan membeli kapas dari wilayah lain agar produksi pembuatan kain ini terus berjalan,” ungkapnya.

Rabu, 16 November 2016

Festival Batik Tenun Fashion Craft dan Culinary Bojonegoro 2016

Festival Batik Tenun Fashion Craft dan Culinary Bojonegoro 2016


Perayaan hari jadi Bojonegoro ke 339, Kabupaten Bojonegoro menyelenggarakan Festival Bojonegoro Batik dan Tenun Fashion, juga Craft dan Culinary 2016 yang digelar di Jalan Mastumapel tepatnya di area Alun-alun Bojonegoro, Sabtu malam (12/11/2016).

Masyarakat Bojonegoro sangat antusias berkunjung di Festival tersebut. Ada pameran craft dan kuliner yang diikuti oleh 20 peserta UKM Batik, 16 peserta UKM Tenun, 17 peserta pameran Craft (kerajinan) dan 28 peserta untuk Kuliner. Diharapkan dengan adanya pameran tersebut, akan terjadi pertemuan antara produsen maupun konsumen untuk interaksi secara langsung melalui exhibition sehingga dapat terjadi pergerakan yang signifikan di dalam industri terkait.

Di lapangan juga banyak terdapat stand kuliner mulai dari Omah Kerang, Bebek Josh, Cinta Cake and Bakery, jus buah, bakso, juga terdapat aneka stand industri kreatif seperti kasur lantai Baureno dan Gerabah Rendeng Malo.

Bojonegoro Batik dan Tenun Fashion ini berlangsung sangat meriah, karena sebanyak 131 peserta ikut memeriahkan Festival yang pertama kali digelar di Kota Ledre ini yang dibuka oleh Istri Bupati Bojonegoro Mahfudhoh Suyoto.  Saat pembukaan, Istri Bupati menyampaikan Festival Bojonegoro Batik dan Tenun Fashion dapat menggali potensi designer-designer asli Bojonegoro yang sangat berbakat dengan menunjukkan karya design kain batik asli Bojonegoro.

Sementara itu, ada sebanyak 131 peserta dalam Bojonegoro Batik dan Tenun Fashion ini dengan rincian Kategori A sebanyak 47 peserta, kategori B sebanyak 30 peserta, kategori C sebanyak 28 peserta, dan kategori D sebanyak 26 peserta. Dan masing-masing kategori akan dicari juara 1, 2, dan juara 3. Baca juga: Oliver Sykes pakai Batik ?

Para penonton berjubel memenuhi area kanan kiri catwalk, mereka datang untuk memberikan dukungan kepada para peserta, tak sedikit juga yang terkagum-kagum oleh busana batik modifikasi yang dikenakan oleh para peserta.

Pada malam harinya juga ada bintang tamu dari Miss Grand Internasional 2015, Putri Pariwisata Indonesia 2014, 24 Model Top Jawa Timur dan Jawa Tengah yang  masing-masing memakai baju rancangan beberapa desainer Bojonegoro seperti Fardo Klambi, Agus GMB, Herlina, Mitha Della, Ayok Dwi Pancara, Dendy Hidayat, Fahrudin Fathoni, Amin Hendra Wijaya, Eko Tjandra, dan juga Arva Mode.

Pada penutupan, dimeriahkan oleh Runner Up II Miss Indonesia Dian Bernika Silalahi yang juga putri daerah Bojonegoro. Dian mengelilingi catwalk dengan memamerkan kain batik tenun yang telah diberikan dari Desainer Nasional Eko Tjandra pada saat launching Batik Tenun Ikat oleh Ketua TP PKK Bojonegoro Mahfudhoh Suyoto.

sumber : suketiawan.com
IMG_20200906_175450-001
IMG_20211008_152953